12 Desember 2011

Desain itu Seni Terapan

Oleh Eka Sofyan Rizal

Kalau benar begitu berarti desain itu sama dengan seni; bedanya pada kata ‘terapan’. Agar memenuhi syarat sebagai ‘terapan’, berarti desain itu seni yang berorientasi kepada kegunaan yang berlaku untuk umum, bukan seni yang hanya berguna sebagai ekspresi pembuatnya. Desain itu harus patuh objektivitas, bersih dari pengaruh subyektivitas. Desain berpusat pada rekayasa masalah, bukan pada keinginan dan kebutuhan pembuatnya. Jadi, penekanan desain bukan pada karyanya dan juga bukan pula pada sisi pembuatnya, tetapi lebih mengurusi kegunaan karyanya. Pada akhirnya kita menikmati seni dari karyanya; dan menikmati desain dari kegunaannya.

Bersih Subyektivitas

Dalam banyak kesempatan, desainer bisa berfungsi sebagai publik sasaran –audience atau konsumen– dari program pembuatan desain yang dilakukannnya. Di sini desainer bisa mengambil peran ganda; sebagai pembuat sekaligus sebagai publik sasaran. Tata nilai subyektivitas bisa muncul pada saat desainer mengambil peran sebagai publik. Nilai kemanusiaan –seperti: hati nurani, aspirasi dan kreativitas– bisa muncul dan menjadi masukan untuk proses membuat objektif dari desain. Nilai kemanusiaan ini bisa kontributif terhadap kualitas desain pada saat desainernya secara aktif terlibat dalam dinamika publik, perhatian terhadap masalah sosial, budaya, pendidikan dan sektor lainnya. Nilai kemanusiaan ini bisa menjadi sumber inovasi desain, sehingga solusi desain bukan hanya berasal dari selera pasar yang justru menumpulkan kreativitas.

Rekayasa Masalah

Inti dari program desain adalah rekayasa masalah yang harus dimulai dari proses membentuk kekayaan pemahaman terhadap masalah. Ini mengandung kontradiksi dengan masih banyaknya yang berpandangan bahwa inti desain adalah tentang bentuk solusinya, sehingga seringkali merasa harus segera membuat sketsa dan mewujudkan visualisasinya karena merasa sudah cukup pengetahuannya terhadap masalah. Kondisi demikian membawa desainernya ke lingkup seni karena yang dilakukannya adalah langsung melompat ke proses membuat ekspresi dari masalah, tanpa mempertanyakan lebih lanjut tentang jatidiri masalahnya. Mereka yang lebih mementingkan ekspresi dari suatu permasalahan visual memang lebih cocok disebut seniman dibanding desainer.

Menikmati Kegunaan

Pada saat kita menikmati sebuah karya desain, seringkali tanpa sadar kita mengacuhkan wujud karyanya tetapi lebih termotivasi oleh kegunaannya. Seperti kata Paul Rand; “Graphic Design is the Language.” Jadi, memang desain bukan isi pesannya, ia adalah bahasa penyampai pesannya; dengan catatan bahwa kualitas bahasa juga sangat mempengaruhi tersampaikannya pesan dengan baik. Sementara di luar itu apabila kita lihat dari sudut komunikasi, seni justru menempatkan karya sebagai inti pesannya dan seniman sebagai sumber pesannya.

sumber : http://dgi-indonesia.com/desain-itu-seni-terapan/


16 Mei 2011

7 Mitos dan Fakta Desain Grafis

Oleh FDGI – Surianto Rustan

#1
Desain grafis itu komputer (harus memakai komputer)

Komputer memang digunakan dalam proses mendesain, namun tidak seluruhnya, dan bukan hal yang paling utama. Merancang solusi untuk suatu masalah adalah yang paling utama dalam desain grafis, ini dilakukan dengan riset / wawancara, membuat catatan*. Sama sekali belum menggambar, apalagi menggunakan komputer.

* Riset / wawancara dilakukan kepada pihak yang berhubungan dengan permasalahan, sedangkan membuat catatan untuk mengembangkan imajinasi, untuk kemungkinan solusi.

#2
Bisa Photoshop / Illustrator / CorelDraw = bisa desain grafis

Software itu bukan desain grafis / bukan alat utama dalam desain grafis. Ia hanya alat bantu dalam membuat karya desain grafis. Bisa mengoperasikan software-nya belum tentu bisa mendesain dengan baik.

Untuk menghasilkan karya desain yang berhasil, ada tahapan kerja dan prinsip-prinsip yang harus diterapkan. Software tidak mengerti hal itu, ia hanya alat. Yang harus mempelajari adalah si pemakainya.

Desainer grafis tidak menggantungkan dirinya pada software, tapi pada otaknya yang kreatif. Riset, analisa, mencari strategi visual dan komunikasi adalah proses awal mendesain. Hal itu tidak bisa dilakukan oleh Photoshop, Illustrator, CorelDraw, atau software lainnya, hanya otak kita yang dapat melakukannya.

#3
Desain grafis itu membuat iklan

Membuat iklan memang salah satu pekerjaan yang cukup banyak ditekuni oleh desainer grafis, tapi bukan itu satu-satunya. Branding, editorial & penerbitan, desain kemasan / packaging, web & development, adalah di antara sekian banyak yang juga ditekuni oleh desainer grafis.

#4
Desain grafis itu cuma make-up, menghias sesuatu supaya lebih indah

Yang sekadar menghias itu bukan desain grafis, tetapi dekorasi, tujuannya memang cuma satu: untuk memperindah. Tidak ada fungsi lainnya.

Kalau desain grafis, selain memperindah ia juga punya fungsi: menyampaikan pesan dan identitas. Tujuannya untuk menjual, memberi informasi, menanamkan citra ke benak konsumen, dan lain-lain.

Contoh: iklan handphone di majalah. Selain ia harus menarik perhatian pembaca, juga punya tugas menyampaikan pesan dengan jelas, merayu orang untuk membeli, menggambarkan citra brand tersebut.
Ini desain grafis.

#5
Desain grafis itu masalah selera. Kalau saya bilang suka, orang lain mungkin tidak suka.

Kalau berupa dekorasi saja mungkin bisa dinilai tergantung selera pribadi: “suka”, “tidak suka”. Tetapi kalau desain grafis dinilai secara keseluruhan, maka penilaiannya jadi: “apakah ia dapat menjual?”, “apakah berhasil menginformasikan?”, “apakah terbangun citra yang diharapkan?” dan penilaian-penilaian lain yang sifatnya objektif, bukan subjektif / selera pribadi.

#6
Untuk menjadi desainer grafis, yang paling penting punya bakat seni.

Bakat seni memang diperlukan dalam mendesain, tapi bukan segala-galanya. Kerajinan dalam berlatih, keberanian mengeksplorasi hal-hal baru, kreativitas, kemampuan logika, analisa, komunikasi, kepekaan, dan masih banyak lagi kemampuan yang lebih dibutuhkan untuk menjadi seorang desainer grafis.

Bila hanya mengandalkan bakat dan tidak mengembangkan kemampuan lainnya, tidak akan membuat seseorang menjadi desainer grafis yang baik.

#7
Desainer grafis tidak perlu bisa menggambar
Desainer grafis harus jago menggambar

Desainer grafis perlu bisa menggambar, walaupun tidak perlu bagus sekali. Karena menggambar itu sebetulnya mengatur pemikiran / ide-ide, sebagaimana seorang penulis mengatur kata-kata dalam tulisannya.

Desainer grafis perlu punya kemampuan menggambar untuk mempermudah mewujudkan ide-idenya sendiri, atau untuk menerangkan ide tersebut kepada orang lain untuk diwujudkan secara visual, contohnya seorang art director kepada anak buahnya.|

07 November 2010

Pelatihan Desain Grafis


Pelatihan Peningkatan Kompetensi SDM Percetakan bidang Desain Grafis oleh PPGI DKI Jakarta dan Kementrian Perindustrian telah dilaksanakan pada tgl 3 - 5 Nopember 2010 bertempat di Hotel Maharani Jakarta.
Dari sekian materi yang disajikan ternyata masalah warna dan persiapan file untuk naik cetak menjadi hal yang palik menarik. Betapa kurangnya para desainer mengetahui proses cetak dgn segala kendalanya akibat kesalahan warna dan jenis file.
Kebanyakan dari peserta masih bernaung di bawah akuan desainer. Padahal di luar sana, proses cetak terus berkembang dengan keilmuan dan teknologinya yang semakin maju.
Terima kasih kepada PPGI dan Kementrian Perindustrian, semoga program ini terus berlanjut dengan kwalitas yang lebih baik tentunya.
Salam Maharani buat rekan2 dari DKI, Lampung, Jabar, Jambi, Kepri, Sumut n Banjarmasin

03 Mei 2009

Desain Grafis Sebenarnya

Penguasaan atas program grafis seperfi Corel Draw, Photoshop, Freehand dan lain-lain memang identik dengan proses pembuatan iklan yang sarat dengan gambar. Bahkan apabila disangkutkan dengan industri perfilman Hollywood, seorang desainer grafis memiliki potensi yang sangat besar untuk berapresiasi sebagai pengemas efek dan segala tetek bengek berbau animasi.

Namun sesungguhnya terlalu sederhana untuk menilai mudahnya membuat iklan hanya berbekal program grafis, meski dengan kemampuan superpower sekalipun! Iklan yang baik tidak dapat dilihat dari bagus atau tidaknya bentuk visual, tidak juga dapat dilihat dari kata-kata yang memorable, atau tidak bisa hanya berdasarkan laris atau tidaknya produk di pasaran. Menilik film Final Fantasy, apa jadinya jika dibuat dalam versi film pada umumnya? Cerita yang tidak memiliki kekuatan story telling tentulah ambruk menjadi film kelas B. Beruntung film ini dibuat murni oleh kemampuan grafik yang kemudian mendongkrak proyek animasi naik sampai langit ke tujuh sebagai sesuatu yang menakjubkan dan menjadi bahan perbincangan banyak orang.

Padahal penguasaan program yang sama sanggup membuat film Finding Nemo begitu manusiawi, sebelumnya film Monster Inc pun memiliki pola bertutur sangat simpatik. Minimnya nuansa futuristik dengan gaya star wars serta penilaian yang berorientasi pada tema anak-anak agaknya membuat film tersebut kehilangan aura komputer grafik untuk menjadi topik pembicaraan, terapi plot yang kuat dan kemampuan luar biasa untuk menghidupkan karakter cerita dalam kemasan teknologi sanggup menjadikannya sebagai film yang mampu “berbicara” kepada penontonnya.

Pernah, dalam waktu bersamaan Walt Disney dan Dreamworks membuat fabel berbasis animasi melalui film Bugs Life dan Antz, dalam konteks dasar visual yang sama ternyata Dreamworks harus mengakui kepiawaian Walt Disney dalam strategi pembuatan film keluarga dengan menerima kekecewaan bahwa Antz jeblok di pasaran, meski berlatar nama besar Steven Spielberg dan melibatkan Sharon Stone juga Sylvester Stallone sebagai pengisi suara.

Sistem Kerja Klasik Desainer Grafis

Sistem Kerja Klasik Desainer Grafis

Harus diakui bahwa teknologi hanya merupakan media yang tetap memerlukan kreativitas tersendiri saat pengaplikasiannya. Belum lagi dibutuhkan intregrasi dari beberapa faktor secara sinergis apabila kita berbicara masalah pasar. Seperti halnya iklan, sering kali iklan dijadikan pemikul tanggung jawab atas tingkat penjualan sebuah produk. Padahal, letak kekuatan sebuah produk untuk dapat memiliki eksekusi pembelian oleh konsumen adalah kualitas produk itu sendiri, sistem pemasaran produk, straregi promosi yang dilakukan serta kelayakan harga. Pada hakikatnya sebuah iklan hanya bertujuan untuk menciptakan suatu kondisi atas pasar terhadap produk, bukanlah sebagai penentu penjualan secara mutlak.

Iklan yang baik adalah iklan yang mampu membuat komunikasi persuasif terhadap pasar dan mampu mengemas pesan produk secara pas serta mengena pada target yang dituju. Secara analitis tentu saja hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh seorang desainer grafis yang hanya memiliki kemampuan mengoperasikan program semata. Dibutuhkan kemampuan mendalam akan pemahaman produk agar mampu membangun karakter dan identitas atas produk, lalu mentransformasikannya ke dalam bentuk visual secara kreatif dan komunikatif agar dapat menyatu dengan pesan hingga bisa diterima oleh segmen pasar tertuju. Itupun masih belum komplit.

Pada sebuah agensi periklanan, seorang desainer berada dalam departemen yang bertanggung jawab atas output kreatif, creative department namanya. Ada seorang copywriter di sana dan ada seorang eksekutor artwork yang merupakan portal terakhir sebelum materi dipresentasikan kepada client-si pemilik produk. Para penggagas iklan tersebut harus mampu bekerja sama dalam membuat pola komunikasi untuk menempatkan produk sebagaimana mestinya di benak konsumen, sehingga keterlibatan media, baik itu buying maupun placing tidak dapat dipisahkan.

Betapa tidak gampang mengemas sebuah konsep visual, ternyata! Maka tak salah apabila setiap lowongan pekerjaan di agensi periklanan yang selalu ditantang untuk melamar adalah orang-orang yang merasa dirinya kreatif, memiliki kemampuan bekerja sama dan komunikasi yang baik. Saat industri periklanan merebak, demmand kebutuhan grafis meninggi, merebak pula modul-modul pembelajaran seputar grafis baik formal maupun informal. Berbondong-bondong masyarakat menyelami dunia baru bernama graphic design, bahkan bagi mereka yang tak memiliki talenta pun ketertarikan akan program “menggambar virtual” ini sangat besar.

Maklumlah, semua program grafik menyediakan beraneka fitur yang men-supply nyaris segala kebutuhan efek gambar, yang dulu hanya dimonopoli oleh foto-foto para fotografer saja kini mampu dibuat hanya dengan satu tombol lensflare di photoshop dan simsalabim sebuah foto dalam bentuk image, yang tak dapat dipotret oleh rana kamera saat hari hujan, mampu berhiaskan cahaya matahari pagi! Lebih hebatnya lagi, komputer jugalah yang mampu menghidupkan abad pertengahan tanpa cacat dan jutaan tentara Saruman di Mordor dalam film The Lord of The Ring.

Program kini semakin manusiawi dengan tidak hanya menyediakan fasilitas help (f1) bagi mereka yang mengalami kesulitan pengoperasian, namun juga dilengkapi dengan tutorial yang tidak cuma mengenalkan fitur baru apabila muncul program updated namun juga mengajarkan penggunaan seluruh fitur yang ada. Bukan main! Teknologi yang dulu njlimet dan kepemilikannya hanya dikuasai oleh segmen kelas A, sekarang semakin rendah hati karena selain produk yang kian variatif guna pemberian range harga yang penuh alternatif, juga kemudahan pemahaman program untuk dipelajari dan diaplikasikan.

Sistem Kerja Efektif Desainer Grafis

Sistem Kerja Efektif Desainer Grafis

Terus terang, rugi sekali apabila masih merasa bisa dibodohi oleh teknologi! Sayangnya, kelemahan sistem informasi membuat teknologi hanya terkenal secara permukaannya saja. Sehingga tak semua orang mengerti nilai implementasi dari aplikasi program yang ada. Bayangkan, berapa banyak orang yang menyatakan dirinya sebagai seorang desainer grafis berbatas pada kemampuan pengoperasian program grafik? Banyak sekali! Hal itu telah berkali-kali membuat kecele industri yang memang membutuhkan kreator grafik sebenarnya, yang kreatif dan menjiwai aplikasi program dalam implementasi visual sebenarnya.

Pengenalan program secara fisik tidak mampu berbuat banyak dalam proses penciptaan karakter secara visual, apalagi sanggup berkomunikasi. Keadaan tersebut secara tidak langsung juga tidak mendidik masyarakat untuk jadi apresiatif terhadap sebuah karya, selain dianggap hebat, bagus dan bukan main apabila terlihat wah! Banyak orang jatuh cinta pada penciptaan grafik melalui komputer hingga melupakan sisi humanis dimana teknologi sendiri sesungguhnya sedang mengacu ke arah sana. Hingga pada akhirnya sebuah karya dipandang murah karena hanya bermodalkan perangkat komputer dan kemampuan mengoperasikan program grafis.

Apabila merasa diri berminat dalam industri grafis, sudah selayaknya mulai kini tak hanya mengasah ketrampilan teknis, namun juga menjuruskan dengan seksama perihal major yang akan digeluti. Hal tersebut justru bukan untuk menyepelekan faktor teknis, karena dukungan penguasaan aplikasi program yang maksimal akan memberikan implementasi kerja secara optimal. Jadi, hati-hati, jangan cepat mengatakan output kreatif mampu tampil dinamis dan hidup hanya dalam sapuan visual melalui sedikit keterlibatan kreativitas apalagi secara dangkal menyatakan bahwa format gambar yang bagus akan menjamin komunikasi yang baik.

Sebuah karya membutuhkan nafas untuk membuatnya mampu menyampaikan pesan dan berkomunikasi pada publik yang disasarnya secara cerdas dan mengena. Memang, memadukan unsur visual, kekuatan pesan dan strategi komunikasi untuk dituangkan dalam media bukanlah pekerjaan mudah. Untuk itu mulailah fasih untuk memahami aplikasi sekaligus implementasi menyoal teknologi agar tidak melakukan penilaian dangkal atas kondisi apapun yang tercipta berpangkal dari teknologi
Sumber :agesvisual.wordpress.com

04 Februari 2009

Cetak Gambar/Photo 3 Dimensi

Foto/gambar 3D (tiga dimensi) sebenarnya sudah cukup lama dikenal sejak dahulu, mungkin kita masih ingat gambar2yang terlihat hidup / realistik (seperti ada efek kedalaman, padahal gambar tersebut tipis), atau gambar yang dapatberubah2 / berganti2, yang dulu kita kenal dengan istilah hologram.

Gambar2 tersebut efeknya sangat luar biasa untuk orang yang melihatnya. Sayangnya gambar2 yang kita lihat tersebut adalah gambar jadi, hasil cetak dari percetakan di luar negeri. Untuk dapat membuatnya membutuhkan proses yang rumit, serta investasi peralatan yang sangat mahal, bisa mencapai ratusan juta rupiah. Serta produksinya untuk jumlah besar, tidak memungkinkan membuat order2 kecil atau dalam jumlah satuan.

Spectra Digital telah melakukan penelitian sejak tahun 2001, untuk membuat software & teknik yang dapat dikerjakan secara lebih sederhana & mudah. Akhirnya kami berhasil mengembangkan software 3D Magic® dengan teknik pengerjaan yang praktis, dapat membuat gambar 3D dengan menggunakan printer inkjet ataupun mesin cetak digital chemical, juga mesin cetak offset.

Software ini dikembangkan oleh Spectra Digital, bekerja sama dengan software maker internasional. 3D MAGIC® adalah solusi terbaik untuk pembuatan gambar 3-Dimensi. Terbaik dalam kualitas, harga, serta kemudahan penggunaan.selengkapnya kunjungi http:// www.spectra-digital.com


01 Januari 2009

Tahun Baru=Tahun Lama

Ternyata awal tahun baru belum mencerminkan sikap baru. Detik-detik akhir tahun sarat hura-hura, kesedihan, keprihatinan, perang, bencana, phk, semua berlanjut sampai detik-detik awal tahunbaru. Tidak ada yang baru.

Yang jelas mental dan sikap lama di tahun baru. Blogger lama pasang skin baru, padahal dibuatnya tahun lalu. Kalau kita renungkan, apasih yang baru? Semua hanya pengulangan atau penundaan untuk kemudian dibarukan.

Hal baru yang sesungguhnya belumlah ada, nanti setelah diakhirat barulah kita akan menemukan hal yang baru. Surga atau neraka? Nah itu baru BARU.

Ya Allah berkahi kami semua. Biarkan kami yang lama tetapi baik menurutMu, daripada baru tetapi buruk menurutMu. Amin

30 Desember 2008

Akhir Tahun yang Prihatin

Kesal karena gas ga ada, mo masak ga bisa, cari kayu bakar ga punya kebon. Nambah lagi deh pengeluaran, segala beli jadi. Jaman dulu kayanya ga pernah kaya gini. Kalo gas ma minyak tanah aja sering ngilang di pasaran, wah bisa2 masak pake kayu bakar lagi, abis lagi dah hutan kita. Pada dikemanain tuh minyak tanah ma gas? Jangan-jangan pada ditimbun buat bekal ke liang kubur, ato memang buat ngebakar dirinya sendiri ntar dineraka. Serakah banget tuh orang. Kita do'ain aja biar mereka pada sadar, ga nyusahin orang banyak.

Belon lagi tidur, eh saudara kita dibombardir. Terlalu amat tuh Israel. Taun baru bukannya pada damai, pada hijrah dari yang jelek ke yang lebih baik, malah nyengsarain orang. Zionis memang ga punya hati, ga punya prikemanusiaan karena memang temennya iblis. Kalo kata kita yang waras , mustinya israel tau diri. Sebagai bangsa yang terusir ya pinter2 ngambil hati yang punya rumah, bukan malah ngaku2 punya orang lain. Kasihan Nabi Musa, umatnya ga berubah, tetep kapir dari yang kapir.

Kita orang Islam paling ga ya ikut prihatin lah. Cermin buat kita, kalo nyengsarain orang itu sama dengan temennya iblis. Makanya yang nimbun minyak tanah ma gas sama dengan temennya iblis soalnya nyensarain orang banyak, betuull ga?